Halal
Untuk mendapatkan yang halal itu mudah. Dan banyak hal yang terkait halal di negeri ini perlu mendapat perhatian. Di antara proyek halal yang perlu mendapat perhatian diantaranya ada kuliner, industri, dan jasa.
Bagian kecil dari kegiatan kuliner halal yag terus mendapat perhatian adalah sembelihan binatang, bumbu dan pelengkap masakan lainnya. Adapun di kegiatan industri pun perlu diperhatikan kehalalan produk yang dihasilkan.
Penyembelihan hewan qurban
Penyembelihan hewan kurban di Indonesia melibatkan semua lapisan masyarakat. Semangat berqurban dan menjadi bagian dalam penyelenggaraannya, ini yang menjadi alasan semua orang ingin terlibat. Sebut saja masyarakat di wilayah RT, ada yang bertugas menjaring pequrban, pengumpul dana, petugas pemotongan, petugas pendistribusi dan peran-peran lainnya yang saling mendukung dalam penyelenggaraan penyembelihan dan pemotongan hewan qurban. Disinilah bentuk perwujudan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Penyembelihan hewan qurban menjadi bagian proses yang dilakukan dalam penyelenggraan pemotongan hewan qurban. Penyembelihan menjadi tahapan krusial untuk menghasilkan daging halal. Ada beberapa titik kritis halal yang harus diperhatikan.
Pengunaan pisau yang memenuhi standar penyembelihan hewan. Pisau yang digunakan tidak terbuat dari tulang, gigi dan kuku. Pisau dapat terbuat dari besi atau merupakan aliasi logam sejenisnya. Pisau dipastikan sangat tajam sehingga dapat memotong tiga saluran (saluran nafas, kerongkongan dan pembuluh darah) pada leher hewan dengan baik. Dalam hal ini, perlu dilakukan uji ketajaman pisau dengan melakukan uji potong terhadap benda lain yang dapat mewakili tingkat ketajaman untuk penyembelihan hewan. Selain itu, pisau juga mempunyai bentuk yang lazim dan cocok untuk penyembelihan hewan. Begitu juga ukuran pisau harus proporsional untuk hewan yang disembelih. Pisau untuk menyembelih kambing, domba, sapi ataupun kerbau harus disesuaikan dengan ukuran leher masing-masingnya.
Sosialisasi Halal
Produk halal yang awalnya merupakan kebutuhan bagi masyarakat muslim telah berkembang menjadi bagian gaya hidup serta tren perdagangan global. Sehingga negara-negara dengan penduduk muslim yang relatif kecil jumlahnya, seperti Thailand, Australia, Brazil, China, Jepang, dan Korea Selatan juga ikut meramaikan persaingan pasar produk halal.
Seperti halnya yan pernah disampaikan Menteri (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Opening Ceremony AICIF 2021, The 9th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance setahun yang lalu. Ia menjelaskan, berdasarkan data Global Islamic Economy Report 2020/2021 menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen muslim untuk makanan dan minuman halal, farmasi dan kosmetik halal, serta pariwisata ramah muslim dan gaya hidup halal pada tahun 2019 mencapai nilai US$2,02 triliun
Menurut Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Bambang Himawan sebagaimana dikutip www.bisnis.com, jumlah penduduk Muslim dunia mencapai 1,8 miliar atau 24 persen dari populasi global dan terus bertumbuh. Pertumbuhan ini turut mendorong prospek pasar industri halal ke depan. Namun demikian, pasar tersebut tidak hanya dilirik oleh negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, melainkan juga oleh negara-negara yang mayoritas penduduk nonmuslim. (A. Zakki)
Leave a comment